Tuesday, September 4, 2012

MLM adalah HARAM


MLM adalah pemasaran yang dilakukan melalui banyak level yang biasanya dikenal dengan up line dan down line. Sistem ini akan membentuk jaringan, sama ada vertikal atau horizontal. Level ini mencerminkan hubungan dengan dua level yang berbeza, sistem level ini biasanya mempunyai persyaratan yang berbeza antara MLM masing-masing. Bonus setiap level adalah dengan ditetapkan mengikut syarat-syarat tertentu dalam sesuatu multilevel. Sebelum menjalankan perniagaan. Setiap orang harus menjadi anggota (ahli) terlebih dahulu dan ahli dikehendaki menulis maklumat diri dan membayar wang pendaftaran atau dengan membeli produk perusahaan dengan jumlah tertentu. Setiap pembelian produk ini, maka ahli akan memperolehi point yang sangat penting kerana ia menjadi ukuran untuk perolehan bonus.Pembelian boleh dilakuakn secara langsung (oleh ahli) atau secara tidak langsung (oleh downline) yang mana ia juga dikenali sebagai jaringan bonus.

A) Apabila seseorang menjadi ahli MLM dia melakukan dua perkara:
1) Membeli produk/menjadi ahli (akad syirkah untuk barang dan akad ijarah untuk jasa)
2) Menjadi syamsarah/perantara/wakil perusahaan tersebut.
Di sini kita huraikan dulu perbezaan antara urusan jual beli dan syamsarah.
- Jual beli adalah transaksi antara penjual yang punya barang dan pembeli yang berkehendakkan barang tersebut.
- Sedangkan syamsarah adalah seseorang yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli. (Atas jasanya itu maka dia akan memperolehi bonus.)
Dengan demikian, apabila seseorang menjadi anggota MLM maka terjadi dua akad dalam satu transaksi, iaitu akad jual beli saat dia membeli produk dan akad sebagai perantara/wakil di saat dia memperoleh hak perniagaan. Satu transaksi dengan dua akad ini, jika dalam bentuk jasa disebut Shafqatayn fi shafqah, dan jika dalam bentuk barang disebut bay’atan fi bay’ah.

Dalam sebuah transaksi syari’at Islam mewajibkan adanya AKAD, yakni ijab dan qabul antara kedua pihak. Maksudnya, apabila saya menjual (misalnya) sebuah hp kepada anda maka saya katakan: ‘Saya jual hp saya ini dengan harga RM 400 kepada anda’, dan ini disebut ijab (penawaran). Kemudian anda mengatakan: ‘Saya beli hp anda dengan harga RM 400’, dan ini disebut Qabul (penerimaan). Begitu juga lafadz (ucapan) saat pernikahan, Ijab dari wali (bapa) wanita dan Qabul dari lelaki yang hendak mengahwini wanita tersebut.

Disamping itu, Islam telah menetapkan bahwa akad harus dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara; zat (barang atau benda) atau jasa (manfaat). Misalnya, akad syirkah dan jual beli adalah akad yang dilakukan terhadap zat (barang atau benda), sedangkan akad ijârah adalah akad yang dilakukan terhadap jasa (manfaat). Selain terhadap dua hal ini, maka akad tersebut statusnya batil.
Mengenai shafqatayn fi shafqah, atau bay'atayn fi bay'ah, telah banyak dinyatakan dalam hadits Rasulululah antara lain sebagai berikut:

“Nabi saw telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian”. [1][1]
Hadith ini diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa'i dan at-Tirmidzi dari Abû Hurayrah ra.
Dalam hal ini, as-Syâfi'i memberikan keterangan (syarh) terhadap maksud bay'atayn fi bay'ah (dua pembelian dalam satu pembelian), dengan menyatakan:

Jika seseorang mengatakan: Saya jual budak ini kepada anda dengan harga 1000, dengan catatan anda menjual rumah anda kepada saya dengan harga segini. Artinya, jika anda menetapkan milik anda menjadi milik saya, saya pun akan menetapkan milik saya menjadi anda.[2][2]

Dalam konteks ini, maksud bay'atayn fi bay'ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi; akad yang pertama adalah akad jual-beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun, masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain, sehingga terjadilah dua transaksi tersebut termasuk dalam satu akad.

Hadits al-Bazzâr dan Ahmad, dari Ibn Mas'ûd yang menyatakan:
Rasulullah saw. telah melarang dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad).[3][3]
Hadits yang senada dikemukakan oleh at-Thabrâni dalam kitabnya, al-Awsath, dengan redaksi sebagai berikut:
Dalam konteks hadits diatas, yang terjadi adalah bay’atan fi bay’ah yakni satu transaksi dengan dua jual beli (barang).
Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (HR Thabrani).
Dalam konteks hadits diatas, yang terjadi adalah Shafqatayn fi shafqah yakni satu transaksi dengan dua kesepakatan (jasa).
Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad).[4][4]
Maksud hadits ini sama dengan hadits yang telah dinyatakan dalam point di atas. Dalam hal ini, Rasulullah saw. dengan tegas melarang praktik dua akad (kesepakatan) dalam satu akad (kesepakatan).

B) Selain itu terdapat juga hukum syamsarah ala syamsarah/ wakil atas wakil (perantara atas perantara)
Apabila seseorang menjadi ahli MLM, maka ia akan berusaha mencari down line baru dengan menawarkan produk perusahaan (di sini ia akan menjadi waklil kepada perusahaan itu. Kemudian down line yang telah menjadi anggota MLM ini akan mencari down line berikutnya dengan menawarkan produk perusahaan (ia-pun menjadi makelar lagi/simsar).
Dalam hal ini akan terjadi mewakili wakil (wakil atas wakil/ perantara atas perantara/syamsarah ala syamsarah)

Adapun pada asalnya wakil ini secara umumnya dibolehkan berdasarkan hadits dari Qays bin Abi Ghurzah al-Kinani ini menjelaskan
Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural simsar/wakil), kemudian Rasulullah saw keluar menghampiri kami dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: Wahai para Tujjar (plural dari tajir, pedagang), sesungguhnya jual beli itu selalu dihinggapi kelalaian dan sesumpah maka bersihkanlah dengan sedekah. [5][5]

Maksudnya begini, jika saya akan menjual rumah saya dengan harga RM 100 ribu maka saya minta bantuan seorang wakil (simsar), saya katakan: ‘Tolong jualkan rumah saya (carikan pembelinya) dengan harga RM 100 ribu dan jika terjual saya beri anda komisyen (upah) 2.5% dari nilai transaksi’. Jika perantara menemukan pembeli dengan saya dan transaksi berlangsung, maka saya bayarkan komisi kepada wakil itu itu RM 2500, Ini dibenarkan oleh syari’at Islam.
Hadits tersebut diuraikan (syarh) oleh as-Sarakhsi dalam kitabnya Al-Mabsuth li as-Sarakhsi,
“Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain dengan kompensasi ((upah/bonus/komisi), baik untuk menjual ataupun membeli.”[6][6]
Dengan batasan ini maka yang dibolehkan (mubah) oleh syari’at adalah wakil pada level pertama saja, dan diharamkan untuk level berikutnya karena akan terjadi Syamsarah ‘ala syamsarah.
Dari batasan-batasan tentang perwakilan di atas, dapat disimpulkan, bahawa perwakilan itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (mâlik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama wakil yang lain. Karena itu, mewakili wakil atau samsarah 'ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan wakil adalah sebagai orang tengah (mutawassith), atau orang yang mempertemukan (mushlih) dua kepentingan yang berbeza; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi wakil orang tengah (mutawassith al-mutawassith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah.
Hal ini yang terjadi dalam bisnes MLM, seseorang up line (wakil yang entah ke berapa) kemudian mencari wakil lain (down line) untuk menawarkan produk perusahaan. Disini terjadi syamsarah ala syamsarah.

Kesimpulan:
1.Bisnes MLM ini dihukumi halal tidahk hanya berdasarkan produk yang dijual adalah barangan yang halal dan harus diamati adakah system MLM yang dijalankan melanggar hukuk syara’ atau tidak. Memang kita diwajibkan dalam berdagang hanya menjual barang yang dihalalkan oleh syara’, diharamkan menjual khamr, anjing, babi, salib, dan lain-lain. Tetapi sistem perdagangannya juga tidak boleh melanggar hukum syara’, seperti berbohong, penipuan dalam timbangan menjual barangan yang rosak mahupun satu transaksi dengan dua akad, dan lain-lain. Maksudnya dua hal harus dipenuhi: jenis barang dan sistem perdagangan.
2. Transaksi MLM yang umum berlangsung telah melanggar dua hukum syara.’
A) Melakukan satu transaksi dalam dua akad, shafqatayn fi shafqah untuk jasa atau bay’atan fi bay’ah untuk barang. Pada saat yang sama seorang anggota MLM menjadi pembeli dan sekaligus wakil bagi perusahaan.
B) Terjadi aktiviti wakil atas wakil/perantara atas perantara (syamsarah ‘ala syamsarah), seorang up line (perantara) menawarkan produk kepada down line (perantara berikutnya). Padahal produk yang ditawarkan up line tersebut bukan miliknya, ia hanya berfungsi sebagai wakil dan tidak berhak mencari wakilnya yang lainnya (down line).
3. Jika kita melakukan aktiviti yang diharamkan oleh syariat Islam, maka wang hasil usaha tersebut tentu haram juga. Dan setiap wang haram akan dipertanggung-jawabkan nanti di Yaumil akhir nanti. Adakah hujjah kita kepada Allah swt atas wang haram itu?. Lebih baik kita memperoleh penghasilan yang halal meskipun sedikit, daripada banyak tetapi haram.

Wallahua'lam.
Rujukan:
[1][1] Lihat, as-Syawkâni, Nayl al-Awthâr, Dâr al-Jîl, Beirut, 1973, juz V, hal. 248.
[2][2] Lihat, as-Syawkâni, Nayl al-Awthâr, juz V, hal. 249; pandangan yang sama juga dikemukakan oleh as-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni. Lihat, an-Nabhâni, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Dâr al-Ummah, Beirut, 1992, juz II, hal. 318.
[3][3] Lihat, al-Haytsami, Majma' az-Zawâ'id wa Manba' al-Fawâ'id, Dâr al-Kitab al-'Arabi, Beirut, 1973, juz IV, hal. 84.
[4][4] Lihat, al-Haytsami, Majma' az-Zawâ'id wa Manba' al-Fawâ'id, juz IV, hal. 84.
[5][5] as-Sarakhsî, al-Mabsûth li as-Sarakhsî, juz XV, hal. 115.
[6][6] as-Sarakhsî, al-Mabsûth li as-Sarakhsî, juz XV, hal. 116.

Monday, September 3, 2012

Hukum Pembunuhan Menurut Islam

Bentuk-bentuk Pembunuhan Di Dalam Islam

Menurut Abdul Rahman Al-Maliki di dalam kitabnya Nizamul Uqubat, pembunuhan dapat dikategorikan kepada empat jenis iaitu:-

(i) pembunuhan sengaja (qatlu al-amad) 
(ii) mirip sengaja (shibhul amad) 
(iii) tersalah (khata’) 
(iv) tidak sengaja (ma ujri mujarral khata’). 

Adalah menjadi perkara yang maklum minaddin bi dharurah (tidak ada alasan untuk tidak mengetahui) bahawa melakukan pembunuhan secara sengaja adalah haram secara qath’ie (pasti). Firman Allah SWT 

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
 [TMQ an-Nisa’ (4):93]. 
Pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad) bermaksud membunuh orang lain dengan sesuatu (alat) yang pada umumnya dapat membunuh orang tersebut atau memperlakukan orang lain dengan suatu perbuatan yang pada umumnya dapat membunuh orang tersebut. Ia boleh dikategorikan kepada tiga macam:-

Pertama: Menggunakan alat yang biasanya dapat membunuh seseorang, misalnya pedang, pisau, pistol, bom tangan atau apa sahaja yang biasanya dapat digunakan untuk membunuh. Ini termasuklah memukul orang dengan benda berat dan besar yang boleh mengakibatkan kematian seperti batang besi, batang kayu, tukul, batu besar dan lain-lain. 

Kedua: Menggunakan alat yang biasanya tidak dapat membunuh akan tetapi ada indikasi lain yang umumnya akan menyebabkan kematian seseorang. Sebagai contoh, penggunaan tongkat yang diperbuat dari besi berat atau yang terdapat paku besar di kepalanya. Begitu juga sekiranya pukulan yang dilakukan adalah berulang-ulang kali yang lazimnya akan menyebabkan kematian meskipun alat yang digunakan adalah tongkat biasa atau batu biasa. Semua ini dianggap sebahagian dari jenis pembunuhan sengaja. 

Ketiga: Memperlakukan seseorang dengan suatu perbuatan yang biasanya dapat membunuh seseorang seperti mencekik lehernya, menggantung lehernya dengan tali atau melemparkan seseorang dari tempat tinggi seperti dari puncak gunung, bangunan yang tinggi, kapal terbang atau dari kereta yang sedang bergerak laju. Begitu juga dengan menenggelamkan seseorang ke dalam air atau memasukkan seseorang ke dalam api, menghumban seseorang ke kandang singa atau harimau atau binatang berbisa. Juga, boleh jadi dengan cara memenjarakan seseorang dalam tempoh yang lama tanpa diberi makan/minum hingga batas waktu yang tidak mungkin ia dapat bertahan. Jenis perbuatan yang serupa adalah seperti memberi seseorang meminum racun atau makanan yang boleh membunuhnya atau perbuatan apa sahaja yang lazimnya akan menyebabkan kematian. Semua perbuatan yang pada umumya boleh membunuh seseorang adalah tergolong dalam al-qatlu amad. Abu Daud meriwayatkan tentang peristiwa orang Yahudi yang memberikan Rasulullah SAW daging kambing yang beracun, kemudian Abu Salamah berkata tentang peristiwa itu, 

“Akhirnya terbunuhlah Basyir bin al-Bara’, kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh Yahudi tersebut”.

Uqubat (Hukuman) Bagi Pembunuhan

Sebelum kami menghurai lebih lanjut akan hukuman ke atas pelaku pembunuhan, perlu kami tegaskan di sini perbezaan di antara undang-undang Islam dengan undang-undang yang diguna pakai di Malaysia pada hari ini. Ada sesetengah orang terkeliru (dan dikelirukan) bahawa undang-undang yang sedia ada adalah bertepatan dengan Islam kerana hukuman bunuh dikenakan ke atas pembunuh. Sesungguhnya hukuman yang ada pada hari ini berbeza sama sekali dengan hukuman Islam dilihat dari sudut mana sekalipun. 

Pertama: Hukuman sekarang yang diperuntukkan di bawah seksyen 302 Kanun Keseksaan adalah berasal dari undang-undang yang dibuat dan diluluskan oleh manusia di Parlimen, manakala hukuman dalam Islam adalah berasal dari Allah dan Rasul di dalam Al-Quran dan Al-Hadis. 

Kedua: Mengikut undang-undang sekarang, pihak yang melakukan tuntutan (pendakwaan) adalah kerajaan (pendakwaraya), bukannya ahli waris (wali) mangsa, sedangkan di dalam Islam, hak pendakwaan terletak di tangan wali. 

Ketiga: Wali kepada pihak yang terbunuh langsung tidak diberi pilihan memilih hukuman, walhal di dalam Islam, wali mempunyai beberapa pilihan yang diberikan oleh syarak (diterangkan di bawah). 

Keempat:
 Hukuman Allah apabila dilaksanakan ke atas manusia akan menjadi pencegah (zawajir) dan penebus dosa (jawabir) bagi pelakunya di akhirat, sedangkan hukuman sekarang tidak akan membawa apa-apa erti, malah akan menimpakan dosa ke atas pelaksananya kerana jelas sekali mereka tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan. 

Berbeza dengan hukum kufur ciptaan manusia yang diterapkan pada hari ini, di dalam Islam, hukuman bagi pembunuhan yang disengaja bukanlah hukuman bunuh semata-mata. Wali (ahli waris) kepada yang terbunuh boleh memilih hukuman sama ada qisas (bunuh balas), atau diyat atau memaafkan. Hak ahli waris diterangkan oleh Allah melalui firmanNya, 

“Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh” [TMQ al-Isra’ (17):33]. 

FirmanNya yang lain, 

“Diwajibkan atas kamu qisas berkenaan orang-orang yang dibunuh”
 [TMQ al-Baqarah (2):178]. 

Adapun mengenai pilihan yang diberikan kepada ahli waris, is diterangkan oleh Rasulullah SAW melalui hadis baginda, 

“Barangsiapa yang terbunuh, maka walinya memiliki dua hak, boleh meminta diyat (tebusan) atau membunuh si pelakunya (qisas)
” [HR Bukhari]. 

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Khuza’iy, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 

“Barangsiapa tertumpah darahnya atau disakiti, maka ia boleh memilih salah satu dari tiga pilihan, boleh meng-qisas atau mengambil diyat atau memaafkan. Jika ingin yang keempat, maka kuasailah dirinya”. 


Kesemua ini merupakan dalil yang sangat jelas bahawa hukuman bagi al-qatlu al-amad adalah qisas atau pihak wali meminta diyat ataupun memaafkan, yang berbeza sama sekali dengan undang-undang yang diterapkan pada hari ini. 

Berkenaan diyat, terdapat dua jenis diyat iaitu pertama, diyat berat (mughallazah) yakni 100 ekor unta di mana 40 darinya mestilah bunting. Diyat ini diambil dari pembunuhan yang disengaja (qatlu al-amad) apabila walinya memilih untuk meminta diyat. Diyat ini juga diambil dari pembunuhan mirip sengaja (syibhul amad). Kedua, diyat yang tidak berat yakni 100 ekor unta sahaja. Diyat semacam ini diambil dari kes pembunuhan yang tersalah dan tidak sengaja. Dalil untuk kesemua ini diambil dari hadis Nabi SAW. Diriwayatkan oleh Imam Nasa’iy bahawa Amru bin Hazm meriwayatkan di dalam kitabnya bahawa Rasulullah SAW telah menulis surat kepada penduduk Yaman, 

“Sesungguhnya di dalam jiwa seorang mukmin itu ada 100 ekor unta”. 

Dikeluarkan dari Tirmizi dari Amru bin Syuaib dari bapanya dari datuknya, bahawa Rasulullah SAW bersabda, 

“Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja maka keputusannya diserahkan kepada wali-wali pihak terbunuh. Mereka berhak membunuh (qisas) atau mengambil diyat yakni 30 ekor unta dewasa (hiqqah), 30 ekor unta muda (jaza’ah) dan 40 unta yang sedang bunting, dan mereka juga berhak memaafkannya”. 

Diyat di sini mestilah berupa unta, bukan yang lain. Ini kerana nas telah menetapkannya demikian. Oleh itu, diyat tidak boleh dibayar dengan lembu, kambing, biri-biri atau haiwan yang lain. Tidak ada dalil dari Rasulullah SAW yang menunjukkan atau membenarkan hal tersebut. Adapun terdapat beberapa riwayat dari Amru bin Syuaib dan juga dari Atha’ dari Jabir yang membenarkan diganti unta dengan lembu dan biri-biri, sesungguhnya hadis-hadis tersebut adalah dhaif kerana terdapat di dalamnya Muhammad bin Rasyid al-Dimasyqiy a-Makhuliy dan juga Muhammad bin Ishaq yang terkenal suka melakukan tadlis (pembohongan). Perlu difahami bahawa kedudukan unta (di dalam diyat) adalah dasar diyat. Ia tidak boleh ditukarkan dengan apa jenis haiwan pun dan atas alasan apa pun.
 
Mengenai diyat wang, maka ia diukur dengan emas sebanyak 1,000 dinar dan perak sebanyak 12,000 dirham. Dalil tentang diyat yang dibayar dengan emas adalah apa yang diriwayatkan oleh Nasa’i dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazam dari bapanya dari datuknya, 

“Dan bagi orang yang memiliki emas (diyatnya) sebanyak 1,000 dinar”. 

Sedangkan dalil diyat dengan perak adalah berdasarkan riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas, 

“Seorang lelaki telah membunuh, kemudian Nabi SAW menetapkan diyatnya sebanyak 12,000 dirham”. 

Satu dinar syar’ie adalah setara dengan 4.25 gram emas dan satu dirham syar’ie adalah setara dengan 2.975 gram perak. Oleh itu, diyat bagi pihak yang terbunuh, bila dibayar dengan emas adalah sebanyak 4,250 gram atau jika dibayar dengan perak berjumlah sebanyak 35,700 gram perak. Diyat seorang yang merdeka adalah sama dengan diyat seorang hamba, begitu juga diyat seorang lelaki adalah sama dengan diyat seorang perempuan. Juga, tidak ada perbezaan di antara dewasa dan kanak-kanak atau Muslim dan zimmi, kesemua diyat mereka sama sahaja. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, 

“Kaum Muslimin darahnya sepadan”. Juga sabda baginda, “Di dalam jiwa seorang mukminah terdapat 100 ekor unta”. Sabda baginda yang lain, “Perhatikan orang yang terbunuh kerana pembunuhan yang mirip sengaja, baik terbunuh kerana cambuk mahupun tongkat, maka diyatnya adalah 100 ekor unta. 

Dalil-dalil ini berlaku umum tanpa dibezakan di antara lelaki mahupun wanita, merdeka mahupun hamba.

Pihak Yang Wajib Membayar Diyat

Mengenai pihak yang wajib membayar diyat, hal ini perlu dirincikan dan diperhatikan dengan cermat. Untuk kes pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad), diyat diambil dari harta si pembunuh, bukan dari aqilahnya. ‘Aqilah’ adalah pihak asabah  yang memiliki pertalian keluarga dari sebelah bapa (paternal relations/agnates). Adapun adik-beradik lelaki ibu (mother’s brothers) dan lain-lain saudara sebelah ibu (maternal relatives), suami/isteri dan siapa sahaja yang bukan dari sebelah bapa, kesemua mereka tidak termasuk dalam kategori aqilah. Adapun bapa dan anak lelaki bukanlah aqilah kerana aqilah adalah asabah yang tidak mewarisi kecuali bahagian yang ditinggalkan (baki/remainder) sahaja. 

Dalil bahawa diyat tidak diambil dari aqilah dalam kes pembunuhan sengaja adalah berdasarkan banyak hadis. Antaranya adalah yang diriwayatkan dari Amru bin al-Ahwas bahawa ia hadir pada saat haji wida’ bersama Rasulullah SAW di mana baginda bersabda, 

“Tidaklah seseorang pesalah/penjenayah melakukan jenayah kecuali (tertanggung) atas dirinya sendiri. Seorang anak tidak menanggung jenayah bapanya dan seorang bapa tidak menanggung jenayah anaknya”. 

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, 

“Seorang lelaki (anak) tidak dihukum atas kesalahan bapanya mahupun saudaranya”. 

Ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahawa pembunuhan yang disengaja, diyatnya tidak dibebankan kepada aqilah si pembunuh. Begitu juga di dalam kes pengakuan membunuh (confession) di mana diyatnya tidak dibebani kepada aqilahnya. Dari Ubadah bin Samit bahawa Rasulullah SAW bersabda, 

“Jangan bebani ke atas aqilah diyat walau sedikit, dari orang yang mengaku membunuh”. 

Adapun untuk pembunuhan mirip sengaja (syibhul amad), tersalah (khata’) dan juga tidak sengaja (ma ujri mujarral khata’), dalam ketiga-tiga kategori ini, diyatnya adalah terbeban (wajib) ke atas aqilah,. Ini adalah berdasarkan hadis dari Abu Hurairah yang berkata, 

“Dua orang wanita dari suku Huzail berkelahi. Salah seorang di antaranya melempar seorang lagi dengan batu. Wanita (yang dilempari batu) itu mati, begitu juga (bayi) yang dikandungnya. Nabi SAW menetapkan bahawa diyat atas janin adalah (membebaskan) hamba lelaki atau perempuan sedangkan diyat bagi wanita itu adalah atas aqilahnya (aqilah si pelempar)”. 

Difahami dari hadis di atas bahawa membunuh dengan batu adalah termasuk pembunuhan mirip sengaja kerana (melempar) batu lazimnya tidak menyebabkan kematian. Manakala untuk pembunuhan tersalah dan tidak sengaja, terdapat hadis sahih dari Nabi SAW bahawa 

“Baginda memutuskan bahawa diyat untuk pembunuhan yang tersalah adalah (dipertanggungjawabkan) kepada aqilahnya”. 

Sebagai kesimpulan, diyat bagi pembunuhan mirip sengaja, tersalah dan juga tidak sengaja  adalah diwajibkan ke atas aqilah semata-mata, tidak diwajibkan ke atas ahli waris. Jadi, hanya aqilah sahajalah yang mesti membayarnya. Secara terperinci, aqilah seseorang adalah asyeerah (ahli keluarga)nya iaitu adik-beradik lelakinya, bapa saudara sebelah bapa (paternal uncles) dan anak-anak lelaki dari bapa saudara sebelah bapa (sepupu lelaki) sehinggalah kepada datuk yang ketiga (datuk kepada datuk).  Ia bermula dari fakhz (kaum keluarga) yang terdekat. Jika mereka tidak mampu, maka diyat dikumpulkan dari kerabat terdekat yang berikutnya dan seterusnya, yang mukallaf, lelaki dan merdeka dari kalangan asabah nasab (agnates by relation) kemudian asabah sabab (agnates by cause). Jika mereka ini tidak mampu atau tidak ada, maka diyatnya diambil dari Baitul Mal. Disebutkan di dalam hadis Sahal bin Abi Hasyamah tentang seseorang yang terbunuh di Khaibar, 

“Kemudian Rasulullah SAW membayar diyatnya dari apa yang ia miliki (Baitul Mal)”. 

Juga, di dalam hadis Amru bin Syuaib disebut, 

“Kemudian baginda membayar diyatnya sebanyak 100 ekor unta dari unta sedekah”. 

Diyat diambil dari aqilah secara samarata dan diambil dari aqilah yang mampu sahaja. Adapun mengenai persoalan kepada siapakah diyat ini diserahkan, ia diserahkan kepada ahli waris pihak yang terbunuh, bukan kepada aqilah mereka. Ini kerana terdapat hadis yang melarang pembayaran diyat kepada aqilah orang yang terbunuh [sila baca penjelasan penuh di dalam kitab Nizamul Uqubat, Abdul Rahman al-Maliki]. 

Begitulah serba sedikit penjelasan tentang hukuman bunuh menurut Islam yang dapat diterangkan di dalam ruang yang serba terbatas ini. Melihat kepada kadar jenayah yang semakin meningkat di negara ini, dari satu sudut kita memanglah mengharapkan si pembunuh ditangkap dan dibicarakan segera. Namun, dari sudut yang lain, kita sesungguhnya tidak menginginkan penjenayah ini ‘diadili’ oleh hukum kufur kerana sememangya tidak akan ada keadilan di dalamnya kerana sesungguhnya kita yakin bahawa keadilan itu hanya akan dapat dicapai jika hukum Islam dilaksanakan. Kita juga yakin bahawa selagi hukum kufur ini terus membelenggu kita, maka kes-kes pembunuhan kejam seperti ini tidak akan dapat dihindari. Justeru, tidak ada lagi jalan untuk keluar dari keadaan yang amat buruk ini kecuali kita berusaha untuk menegakkan Daulah Khilafah di mana hanya dengan tertegaknya Khilafah sahajalah, barulah manusia akan benar-benar mendapat keadilan dan dunia ini akan berada dalam kesejahteraan dan kerahmatan kerana di kala itu hukum Allah menjadi hukum yang menaungi kita semua.

Adaptasi dari Sautun Nahdah 231, risalah mingguan Hizb Tahrir Malaysia. Moga memberi manfaat. 

Wednesday, August 29, 2012

Soal Jawab Santai Mengenai Politik


1. Kalau bukan pilihanraya, nak buat macam mana?
Jawapan: Minhaj Rasulullah

2. Apa itu minhaj Rasulullah?
Jawapan: Fasa pembinaan kutlah melalui halaqah, fasa menzahirkan kutlah secara terang terangan, fasa thalabun nusrah, fasa mendirikan daulah dan fasa menyebar luas dawlah.

3. Kalau tak ada kuasa, bagaimana nak ubah sistem?
Jawapan: Memang kekuasaan itu perlu, tapi sepanjang perjalanan mencapainya juga wajib melalui cara yang syarie, bukan pragmatik dengan realiti kufur

4. Takkan nak biar parti sekular terus bermaharajalela?
Jawapan: Persoalan bukan siapa yang memerintah tetapi memerintah dengan apa. Baik kerajaan persekutuan atau negeri, pemerintah atau pembangkang,  keduanya berjuang untuk negara sekular dan bukan Islam sekalipun ada bedak dan make up yang dilumur untuk nampak Islam. Islam bukan sekadar untuk diambil "nilainya" tetapi wajib diambil seluruh SYARIATNYA.

5. Takkan seminar dan risalah je?
Jawapan: Tidak, itu cuma sebahagian kecil uslub untuk menyampaikan idea. Main thing is idea Islam itu wajib disebarluas.

6. Demokrasi tu kan diterima pakai ramai ulama sebagai wadah mendapatkan kuasa?
Jawapan: Jumlah ulama atau penerimaan majoriti bukan penentu benar atau bathil. Demokrasi itu sendiri merupakan tsaqofah (produk pemikiran) dari aqidah sekular yang memisahkan agama dari kehidupan. 

7. Siapa calon Khalifah?
Jawapan: sesiapa sahaja asalkan menepati 7 syarat pengangkatan Khalifah. Sultan yang ada sekarang juga layak menjadi khalifah sekiranya memenuhi 7 syarat tu.

8. Kita sedang berubah dengan perlahan2 menuju lebih baik. Salah ke?
Jawapan: Kesilapan memahami perubahan total (taghyir) atau perubahan berkadar (islah). Seseorang kafir, tetap sahaja kafir sekalipun dia lebih sopan atau jujur berbanding sebelumnya. Perubahan mendasar berlaku apabila aqidah yang menjadi mafahim sesuatu matlamat perubahan itu berubah, bagi Islam, sistemnya KHILAFAH, bagi sekular sistemnya DEMOKRASI.

9. Demokrasi tu kan sama dengan syura?
Jawapan: Tidak sama sekali.  Syura adalah pengambilan pendapat (dalam perkara yang dibolehkan oleh Islam) sedangkan demokrasi adalah sistem pemerintahan kufur yang berasal dari Barat yang berasaskan pada idea sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

10. Bukankah perjuangan politik mesti menimbangkan waqi' (tempat)?
Jawapan: Iya. Pertimbangan itu benar bagi uslub (teknik), tapi bukan pada thoriqoh (method dasar). Waqi di Malaysia, lebih suka cara santai, kita guna cara santai, waqi di Eropah suka perdebatan intelek, kita guna cara intelek. Dari segi thoriqoh, jalan peperangan, jalan demokrasi atau jalan kenabian, itu mesti selari dengan hukum syarak.

11. Puak mana yang patut saya join?
Jawapan: Kewajipan menyertai harakah Islam waktu ini ialah WAJIB. Mana2 gerakan Islam yang menyampaikan kalimat haq ialah harakah yang boleh disertai. Islam bukan hak eklusif sesiapa, bukan hak sebilangan puak sahaja, ia untuk sekalian manusia.

12.  Kenapa tak tunggu Imam Mahdi?
Jawapan: Perkhabaran mengenai Imam Mahdi bukanlah sumber syariat. Ia perkhabaran yang wajib kita percaya sebagaimana khabaran2 lain di dalam Al Quran. Tidak terbit sebarang hukum perbuatan dari kisah2 perkhabaran semacam itu. Sedangkan "perbuatan" mengangkat seorang amirul mukminin bagi sekalian kaum muslimin adalah wajib dan haram melengah-lengahkannya.

Monday, August 13, 2012

Fiqh Puasa: As-su’uth Dan Kaitannya Dengan Perubatan Kontemporari




Dalam perkara yang membabitkan perbuatan yang membatalkan puasa, terdapat suatu perbahasan yang dipanggil as-su’uth. As-su’uth juga disebut sebagai an-nusyuq ataupun an-nusyugh, iaitu meletakkan sesuatu benda di hidung lalu disedut ke dalamnya. Sesuatu ubat yang disedut melalui hidung dipanggil as-sa’uth. As-su’uth dalam beberapa hadis disebutkan seperti ubat, tetapi tidak ada satu pun hadis yang mengaitkan antara as-su’uth dan puasa secara bersama. Para muhadditsin (ahli hadis) tidak menjumpai istilah ini (as-su'uth) dalam masalah puasa kecuali yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shabrah r.a., ia berkata:

{ قُلْتُ يا رسول الله أَخْبِرْنِي عَن الوُضُوءِ ؟ قال : أَسْبِغ الوُضُوءَ وَبَالِغْ فِي الْاِسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِماً }


Aku berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku tentang wudhuk”. Baginda saw berkata: “Sempurnakanlah wudhuk dan lebihkan dalam beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung melalui sedutan), kecuali jika engkau berpuasa”.
   [Riwayat Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasa’i, Tirmidzi dan Ahmad]
Daripada hadis ini, para muhadditsin memasukkan perbuatan istinsyaq ketika berwudhu’ ke dalam kategori as-su’uth.

Para fuqaha' (ahli fiqh) berbeza pendapat dalam masalah as-su’uth, iaitu sama ada ia membatalkan puasa ataupun tidak. Al-Hasan menyatakan bahawa ia dibolehkan asalkan ia tidak sampai ke kerongkong. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan daripada al-Qa’qa yang menyatakan bahawa Ibrahim an-Nakhaie menyebutkan bahawa tidak ada masalah bagi orang yang berpuasa untuk melakukannya. Namun, majoriti ulama' berpendapat bahawa perbuatan as-su’uth membatalkan puasa dan wajib untuk diqadha' kembali puasanya jika terbatal. 

Para ulama' berbeza pendapat pula tentang air yang disedut melalui hidung (istinsyaq) oleh seseorang yang berpuasa lalu air tersebut sampai ke kerongkong tanpa sengaja. Mazhab Hanafi, Maliki dan Imam as-Syafi’e dalam salah satu qaulnya berpendapat bahawa perkara tersebut merosakkan puasa. Manakala Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Al-Auza’I serta para pengikut as-Syafi’e berpandangan bahawa ia tidak membatalkan sebagaimana orang yang terlupa. Hasan al-Basri dan Ibrahim an-Nakhaie berkata perkara tersebut membatalkan puasa jika ia disengajakan.

Syeikh Mahmud Abdullatif ‘Uwaidhah berpendapat bahawa hadis riwayat Ibnu Majah di atas tidak layak untuk dijadikan sandaran perbahasan tentang as-su’uth dengan hujah bahawa as-su’uth sendiri merupakan perbuatan memasukkan benda ke dalam hidung dan disedut agar kesemuanya atau sebahagian daripadanya masuk ke dalam paru-paru dan inilah fakta as-su’uth. Sedangkan memasukkan air atau ubat ke dalam hidung untuk mengubati sinusitis (keradangan pada selaput lendir dalam rongga hidung atau resdung) yang mana air tersebut tidak sampai ke paru-paru dan ini tidak termasuk ke dalam kategori as-su’uth.

Oleh yang demikian, memasukkan air ke dalam rongga hidung ketika berwudhuk tidak termasuk dalam kategori as-su’uth. Jika ditelusuri kembali jalur perbahasan tentang as-su’uth, ia sebenarnya diambil berdasarkan atsar sahabat sepertimana yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq daripada Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata:

“Sesungguhnya puasa itu (menahan diri) daripada sesuatu yang masuk, bukan daripada sesuatu yang keluar. Dan wudhu’ itu disebabkan (menahan diri daripada) sesuatu yang keluar, bukan sesuatu yang masuk.”


Dalam atsar yang lain, daripada Abdullah bin Abbas r.a, ia berkata:

“Dia berkata tentang berbekam bagi orang yang berpuasa. Dia berkata,'Berbuka (puasa) itu kerana sesuatu yang masuk, bukan kerana sesuatu yang keluar.'” [Riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah]

Bukhari meriwayatkan atsar ini secara mu’allaq (gugur salah seorang atau lebih perawinya) namun atsar ini sahih.

Telah disepakati oleh kaum Muslimin bahawa masuknya sesuatu benda melalui kerongkong merupakan perkara yang jelas membatalkan puasa tidak kira sama ada benda tersebut sampai ke perut ataupun ke dalam paru-paru, dan juga tanpa mengira apakah jenis benda yang masuk tersebut. Perkara tersebut sememangnya membatalkan puasa. Jika seseorang ingin berhelah dengan menumbuk kacang sehingga halus kemudian disedut dengan nafasnya melalui hidung, maka hal tersebut tetap membatalkan puasanya kerana hasil daripada perbuatan tersebut adalah memasukkan sesuatu ke dalam kerongkong (melalui hidung) hingga sampai ke paru-paru ataupun perut.

Selain itu, jika yang masuk itu bukan terdiri daripada zat yang mampu disentuh seperti wangi-wangian, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa berdasarkan hadis Anas bin Malik r.a, ia berkata:

“Rasulullah saw ditanya, apakah seseorang yang berpuasa boleh mencium (bau)? Baginda menjawab: Adakah terdapat masalah dengan bau-bauan yang dihidunya?” [Riwayat At-Thabrani]

Rasulullah dalam hadis ini dan dalam hadis yang lain telah menyamakan antara mencium isteri (at-taqbil) dengan mencium wangi-wangian (as-syamm), di mana kedua-duanya menunjukkan satu persamaan iaitu tidak membatalkan puasa.

Berbalik kepada persoalan as-su’uth, maka pendapat jumhur adalah pendapat yang tepat iaitu as-su’uth membatalkan puasa dan ia wajib untuk menqadha kembali puasanya berdasarkan atsar sahabat mengenai puasa sebagai menahan “sesuatu yang masuk”, iaitu menahan diri daripada masuknya sesuatu ke dalam perutnya. Ini termasuklah apa sahaja yang melalui saluran organ pencernaan, mulai daripada kerongkong sehinggalah ke usus besar. Oleh itu, sesuatu yang masuk ke dalam perut membatalkan puasa dan sesuatu yang masuk melalui rongga badan antaranya seperti as-su’uth dianggap sebagai membatalkan puasa.

Beberapa amalan perubatan yang berkaitan

1.    Pemasangan jaringan wayar atau tiub (seperti catheter) yang digunakan untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat, ataupun pemasangan tiub berkamera dan alat-alat lain yang seumpama dengannya (seperti bronchoscope, endoscope dan lain-lain) untuk pemeriksaan dalaman tubuh dan lain-lain, maka keadaannya perlu dikaji terlebih dahulu. Jika wayar atau tiub tersebut dimasukkan melalui kulit dan ia sampai kepada paru-paru, perut dan usus, maka hal tersebut membatalkan puasa. Jika ia masuk melalui kulit dan sampai ke jantung, hati ataupun pundi kencing iaitu tidak sampai kepada sistem pencernaan, maka tidak membatalkan puasa.

2.    Imbasan otak dan kardiografi untuk jantung yang biasanya disertai dengan pemasangan wayar atau elektrod pada tubuh tidak membatalkan puasa.

3.    Penggunaan pancaran sinaran (ray) dalam pelbagai tujuan seperti menghancurkan batu karang dan juga rawatan kanser, rawatan seperti ini tidak membatalkan puasa. Begitu juga rawatan yang menggunakan gelombang magnetik kerana gelombang dan sinaran tidak termasuk sebagai benda (yang mempunyai zat atau ’ain yang dapat diindera).

4.    Taqthir (menitiskan sebarang cecair) ke dalam zakar lelaki atau ke dalam saluran kencing (al-ihlil menurut istilah ahli fiqh) tidak membatalkan puasa kerana ia tidak sampai masuk ke dalam paru-paru atau sistem pencernaan. Termasuk dalam hal ini seperti memasukkan tiub atau wayar (seperti urinary catheter, uretroscope dan lain-lain) melalui zakar untuk pemeriksaan pundi kencing dan ginjal serta operasi pemeriksaan rahim wanita dengan menggunakan vaginoscope ataupun alatan lain, kesemuanya tidak membatalkan puasa.

5.    Enema atau memasukkan ubat melalui dubur membatalkan puasa kerana ia melalui organ pencernaan. Pendapat Imam Ahmad berkenaan enema membatalkan puasa merupakan pendapat yang benar.

6.    Vaksin kulit dan yang sejenis dengannya tidak membatalkan puasa, namun vaksin mulut membatalkan puasa.

7.    Operasi membersihkan rahim wanita (douche), pemeriksaan rahim dan segala yang diperlukan seperti memasukkan ubat-ubatan melalui saluran ke rahim (vaginal suppository), kesemua ini tidak membatalkan puasa kerana rahim bukan termasuk dalam sistem pencernaan atau pernafasan.

8.    Sesuatu yang keluar daripada faraj, maka hal tersebut perlu diteliti. Seperti yang sedia maklum, haid dan nifas membatalkan puasa. Namun jika ia termasuk darah istihadhah (iaitu darah yang keluar kerana pembuluh darah putus atau pecah), maka puasanya tidak terbatal. Darah yang keluar daripada mana-mana anggota tubuh lelaki mahupun wanita tidak membatalkan puasa. Cairan yang keluar daripada alat kemaluan wanita selain darah juga tidak dianggap membatalkan puasa.

9.    Al-jaifah (luka yang bersambung ke perut atau bahagian dalaman tubuh) membatalkan puasa sekiranya luka tersebut masuk ke dalam paru-paru atau ke dalam sistem pencernaan. Jika lukanya tidak sampai kepada anggota-anggota tersebut, maka ia tidak membatalkan puasa. Contohnya jika luka terkena hingga ke jantung, hati dan organ lain. Manakala bagi al-ma’mumah (luka yang sampai ke selaput otak), ia juga tidak membatalkan puasa kerana memasukkan apa sahaja ke bahagian dalam tulang tengkorak tidak membatalkan puasa.

10.    Pembiusan dengan menyedut ubat bius melalui mulut atau hidung membatalkan puasa. Ia termasuk dalam perbahasan as-su’uth yang membatalkan puasa.

11.    Bagi pembedahan, jika ia melibatkan sampai ke perut, paru-paru atau sistem pencernaan, maka ia membatalkan puasa. Jika selain daripada perkara tersebut seperti pembedahan buah pinggang, jantung atau hernia, ia tidak membatalkan puasa seseorang kecuali jika ia diiringi dengan aktiviti perubatan lain seperti memasukkan ubat atau sesuatu melalui paru-paru atau sistem pencernaan.

12.    Operasi lutut, paha atau penggantian organ yang rosak pada kedua-duanya tidak membatalkan puasa.

13.    Jarum suntikan melalui pembuluh darah ataupun otot tidak membatalkan puasa, tidak kira sama ada yang dimasukkan itu adalah ubat, zat-zat makanan, darah ataupun bius selagimana tidak secara langsung memasuki sistem pernafasan atau pencernaan.

Secara ringkasnya, memasukkan sesuatu apa pun, sama ada ia pepejal atau cecair, ataupun alatan tertentu, jika ia memasuki ke dalam sistem pernafasan atau sistem pencernaan, maka hal tersebut membatalkan puasa. Sebaliknya jika ia tidak sedemikian, maka puasa seseorang itu masih sah.

Syubhat yang muncul adalah mengapa dibolehkan sesuatu yang mempunyai zat makanan masuk melalui jarum suntikan sedangkan puasa itu termasuk sebagai menahan diri daripada makan dan minum? Bukankah menyuntik zat makanan atau vitamin mempunyai kesamaan dengan makan dan minum itu sendiri?  Sebagai jawapan bagi syubhat tersebut, perlu difahami bahawa seseorang yang berpuasa itu dilarang untuk makan dan minum, iaitu dilarang daripada melakukan sesuatu yang boleh diistilahkan sebagai makan dan minum. Inilah yang disebutkan dalam pelbagai dalil dan nas. Tidak ada satu pun nas atau dalil yang mengatakan supaya orang yang berpuasa itu menahan diri daripada al-mughadziyat (sesuatu yang berzat makanan) atau at-taghdziyah (pemberian zat-zat makanan). 

Oleh itu, seseorang yang menelan segenggam tanah atau beberapa biji batu kerikil dianggap sebagai membatalkan puasa walaupun benda-benda yang ditelan itu tidak dikategorikan sebagai al-ghidza (sesuatu yang berzat makanan). Yang menjadi sandaran adalah proses atau perbuatan makan dan minum itu sendiri secara fizikal, bukan pemberian zat makanan (at-taghziyah) atau sesuatu yang berzat makanan (al-ghidza). Oleh yang demikian, tidak ada keraguan lagi bahawa pemberian zat makanan atau darah melalui kulit tidak termasuk sebagai makan dan minum serta ia tidak mengakibatkan terbatalnya puasa. Wallahu a’lam.

*Disunting dan diringkaskan daripada tulisan Syeikh Mahmud Abdullatif ‘Uwaidhah bertajuk Himpunan Hukum-Hakam Tentang Puasa (Al-jami’ li Ahkam As-Siyam).

Wednesday, August 8, 2012

Benarkah Syaikh Taqiyuddin An Nabhani pernah Bergabung dengan Ikhwanul Muslimin?


Syaikh Dr. Abdul Aziz Al Khayyath, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) di era 1940-an (yang kemudian bergabung bersama Hizbut Tahrir) menyatakan bahwa setelah kembali dari Al Azhar, Syaikh Taqiyuddin aktif melakukan dialog atau kontak (ittishal) dengan masyarakat. Dialog-dialog tersebut dilakukan dengan sejumlah to
koh-tokoh dan pemuda di wilayah Palestina seperti Dr. Nimr Al Mishri dan Ustadz Dawud Hamdan dan Syaikh Dr. Abdul Aziz Al Khayyath sendiri. Di samping itu, beliau juga giat melakukan kunjungan ke berbagai negeri-negeri Arab untuk menghubungi para tokoh-tokoh dan ulama-ulama Islam untuk menyampaikan gagasannya untuk membangkitkan kembali ummat Islam. Proses tersebut dilakukan sebelum ia menjadi anggota di Mahkamah Isti’naf (Pengadilan Tinggi) Palestina sekitar tahun 1946.

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani sendiri (baik sebelum dan setelah mendirikan Hizbut Tahrir) cukup aktif melakukan dialog dengan sejumlah tokoh Ikhwanul Muslimin. Dr. Abdul Aziz Al Khayyath menyatakan bahwa tema pembicaran beliau dengan Taqiyuddin An Nabhani berkisar pada upaya untuk mewujudkan cara-cara baru untuk menerapkan dan mengembalikan Islam ke tampuk pemerintahan.

Setelah mendapat pencerahan pemikiran dari Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, Dr. Abdul Aziz Al Khayyath (yang pada waktu itu menjadi penanggung jawab tawanan Ikhwanul Muslimin di wilayah Palestina, Suriah, Lebanon dan Yordan tersebut), kemudian menerbitkan majalah yang bernama Al Waie Al Jadid bersama dua orang tokoh Ikhwanul Muslimin, yaitu Abdul Razaq Khalifah dan dan Sayyid Kurkur.

Dr. Abdul Aziz Al Khayyath sendiri kemudian semakin intens melakukan dialog dengan Taqiyuddin An Nabhani, termasuk mengenai upaya untuk melakukan reformasi gerakan, uslub, tujuan, dan pandangan gerakan Ikhwanul Muslimin. Dengan hal tersebut, Dr. Abdul Aziz Al Khayyath berharap tidak perlu lagi membentuk partai politik baru untuk kembali menerapkan Islam ke tampuk pemerintahan sehingga upaya orang-orang yang berjuang untuk kembali menerapkan Islam tidak berserakan. Menurut Dr. Abdul Aziz Al Khayyath, usaha tersebut nyaris berhasil jika saja ia tidak dihalangi oleh Syaikh Dr. Said Ramadhan Al Buthi yang merupakan tokoh panutan IM pada masa itu. Setelah upaya untuk membenahi Ikhwanul Muslimin, termasuk menyuguhkan pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan baru telah mengalami kebuntuan, Dr. Abdul Aziz Al Khayyath kemudian bersama-sama Syaikh Taqiyuddin An Nabhani mendirikan Hizbut Tahrir (HT).

Beliau juga menegaskan bahwa Syaikh Taqiyuddin tidak pernah menjadi bagian dari Ikhwanul Muslimin. Ustadz Auni Judu’ (penulis kitab Hizbut Tahrir Al Islamy) juga menampik hal tersebut. Alasannya, Taqiyuddin An Nabhani merupakan sosok yang alim yang memiliki sejumlah tulisan-tulisan yang berserakan di berbagai media pada tahun 1940-an. Seandainya ia pernah menjadi bagian dari Ikhwanul Muslimin, tentu sedikit banyak akan ditemukan gambaran pemikiran-pemikiran beliau yang bersinggunan dengan Ikhwanul Muslimin. Tetapi sejumlah terbitan Ikhwanul Muslimin pada masa itu ternyata tidak ada yang dapat membuktikan hal tersebut.

Syaikh Taqiyuddin beserta orang-orang yang bergabung dengan HT kemudian semakin intens melakukan dialog-dialog dan interaksi pemikiran dengan berbagai tokoh gerakan, ulama, dan masyarakat secara umum termasuk dari kalangan aktivis Ikhwanul Muslimin. Tidak heran, jika sebagian anggota Ikhwanul Muslimin termasuk sejumlah tokohnya kemudian bergabung dengan Hizbut Tahrir seperti Dr. Nimr Al Mishri, Syaikh Ahmad Ad Daur, dan Ustadz Ghanim Ismail Abduh. Meski demikian, Dr. Abdul Aziz Al Khayyath menegaskan bahwa tidak benar jika seluruh atau sebagian besar anggota awal Hizbut Tahrir berasal dari Ikhwanul Muslimin.

Pada masa itu, menurut Dr. Abdul Aziz Al Khayyath, hubungan antara Hizbut Tahrir dengan Ikhwanul Muslimin sempat mengalami kebekuan akibat adanya diskriminasi sebagian anggota Ikhwanul Muslimin kepada anggota HT yang sebelumnya berasal dari Ikhwanul Muslimin, seperti yang dialami oleh Almarhum Abu Hisyam yang mengalami intimidasi sebanyak dua kali. Syaikh Taqiyuddin dan Dr. Abdul Aziz Al Khayyath sendiri banyak mendapatkan tuduhan-tuduhan yang tidak benar. Salah satunya adalah tuduhan bahwa Syaikh Taqiyuddin menerima sumbangan dana dari salah seorang diplomat AS senilai 80.000 dollar. Masya Allah!

Meski demikian, Syaikh Taqiyuddin sendiri masih sering diundang oleh para anggota Ikhwanul Muslimin untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang selanjutnya menarik minat sebagian mereka untuk bergabung ke Hizbut Tahrir. Bahkan pada masa Imam Asy Syahid Hasan Al Banna sekalipun, Taqiyuddin An Nabhani banyak menghadiri daurah-daurah yang diadakan oleh Ikhwanul Muslimin untuk menyampaikan gagasan-gagasannya.

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, sebelum mendirikan Hizbut Tahrir, sempat bertemu secara langsung dengan Asy Syahid Hasan Al Banna di akhir tahun 1940-an di Kairo. Upaya dialog untuk mencari persamaan dengan Ikhwanul Muslimin sebenarnya telah dilakukan oleh beliau sebelum mendirikan Hizbut Tahrir. Meski hal tersebut mendapatkan penolakan dari beberapa pihak dari Ikhwanul Muslimin. Bahkan Syaikh Dr. Said Ramadhan Al Buthi, sebagaimana yang dituturkan oleh Dr. Abdul Aziz Al Khayyath, melakukan sejumlah distorsi terhadap gambaran aktivitas Islam yang dilakukan oleh Taqiyuddin An Nabhani termasuk berbagai perjalanan yang dilakukan oleh Taqiyuddin An Nabhani dan rekan-rekannya ke sejumlah negara Arab, khususnya di Yordania untuk menyebarkan gagasan-gagasannya. Bahkan Dr. Said Ramadhan Al Buthi membekukan majalah Al Waie Al Jadid yang dikeluarkan oleh Dr. Abdul Aziz Al Khayyath bersama rekan-rekannya dari Ikhwanul Muslimin.

Sikap Taqiyuddin An Nabhani terhadap Asy Syahid Hasan Al Banna
Dalam sebuah wawancara dengan Syaikh Ahmad Ad Daur (salah seorang tokoh senior Hizbut Tahrir), ia mengatakan bahwa sama sekali tidak ada hubungan organisasi antara Taqiyuddin An Nabhani dengan Ikhwanul Muslimin, meskipun beliau pernah bertemu dengan Hasan Al Banna, yang pada masa itu menjadi Mursyid Aam (pimpinan tertinggi) Ikhwanul Muslimin. Tentang Hasan Al Banna, Taqiyuddin An Nabhani pernah berkata, “Syaikh Al Banna merupakan orang yang alim, cerdas, sungguh-sungguh dan seorang mujtahid.”

Salah seorang sumber sebagaimana yang dikutip oleh Ustadz Auni Judu’ mengatakan bahwa sepanjang interaksinya dengan An Nabhani di Lebanon, ia tidak pernah mendengarkan beliau mencela organisasi-organisasi kaum muslimin. Bahkan terhadap Ikhwanul Muslimin sendiri Syaikh Taqiyuddin pernah berkomentar, “Ikhwanul Muslimin merupakan jamaah Islam yang teguh dan tidak ada yang kurang padanya kecuali kajian tentang politik Islam.”

Sikap Hizbut Tahrir sendiri terhadap gerakan-gerakan Islam lainnya setidaknya tercermin dari pernyataan Amin Nayaf, salah seorang tokoh Hizbut Tahrir (ketika beliau memberikan jawaban atas tuduhan terhadap beliau yang telah menyebarkan pemikiran Mu’tazilah). Amin Nayaf berkata, “Janganlah kalian mencoba untuk mencari permusuhan atau mengarah pada permusuhan terhadap gerakan-gerakan Islam lainnya. Kita harus waspada terhadap pihak-pihak yang mencoba untuk memecah-belah gerakan-gerakan Islam. Kepada merekalah seharusnya serangan itu dilancarkan.”

Demikian pula harus ada dialog-dialog yang intensif dengan aktivis gerakan-gerakan Islam untuk melakukan diskusi dengan cara yang penuh hikmah, nasihat yang baik (mauidzah hasanah), dan debat yang baik dimana nash-nash syara dan hukum-hukum syara’ dijadikan sebagai dasar seluruh tindakan dan ucapan. Di samping itu harus dijauhi sikap-sikap pelecehan, penghinaan, serangan atau pembodohan (terhadap gerakan-gerakan Islam lainnya). Kami (aktivis Hizbut Tahrir) hanya berdiskusi dengan menggunakan dalil untuk mencapai kebenaran dan hukum yang shahih tanpa ada rasa permusuhan sedikit pun.

(Referensi tulisan ini didasarkan pada sebuah buku yang ditulis seorang peneliti Ustadz ‘Auni Judu’ Al ‘Abidy dengan judul: Hizbut Tahrir Al Islamy (1992)

Setelah tulisan ini diterbitkan, kita berharap agar sentimen kelompok bisa terlempar jauh dari diri kita. Sesungguhnya Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin itu bersaudara. Saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran