Sunday, February 5, 2017

Peringatan Allah Tentang Mencari Rezki



Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur (2)  janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) (3)  dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (4)  janganlah demikian, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5). niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) . dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (7) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”  (at-Takaatsur: 1-8)

Allah azzawajalla memberi peringatan dengan tegas dan diulang-ulang dalam surah At Takaatsur kepada manusia agar tidak lalai dalam dengan dunia sehingga mengabaikan kehidupan di hari akhirat. Di awal ayat, Allah Ta’ala berfirman

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ, حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur:1- 2).

Dalam bahasa arab, kata أَلْهَاكُمُ bermakna telah membuat kalian lupa. sedangkan kata التَّكَاثُرُ bermakna bermegahan-megahan dan saling memperbanyak harta.

Walaubagaimanapun, ia bukanlah larangan terhadap berusaha keras mencari rezki yang halal, bahkan mencari nafkah yang halal itu merupakan satu kewajipan.

Dalam sebuah hadits dari An Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah menyatakan:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Diantara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia akan terjerumus kepada perkara haram”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Dalam dunia yang diatur di atas ideology sekular kapitalis, kehidupan manusia sesungguhnya sempit:


وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى                                                                   


“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaahaa: 124).

Pemahaman yang benar bagi peringatan Allah azzawajalla dalam surat At-Takaatsur adalah agar manusia tidak lalai dari ketaatan mereka dalam pada ketika mereka berusaha mencari rezki. 

Sebagai ad deen yang mengatur seluruh aspek kehidupan, aktiviti mencari rezki adalah termasuk dalam lingkungan muamalat yang mana ada penetapan khusus dari hukum syarak terhadap aktiviti ini. Memisahkan aktiviti muamalat dari kehidupan adalah merupakan penderhakaan terhadap Allah.

Kecenderungan manusia untuk mencari harta sebenarnya fitrah, atas faktor potensi hidup yang secara fitrah diciptakan kepada kita. Keperluan biology (hajatul adawiyah) dan naluri (ghorizoh) menyebabkan manusia beraktiviti mencari harta dan kekayaan.

Islam tidak menghalang fitrah ini, sebaliknya mengatur agar sentiasa sesuai dengan tujuan utama hidup ini untuk mengabdikan diri kepada Allah azzawajalla.

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

 “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (An-Naba’: 11)

Allahualam. 





No comments:

Post a Comment